Interaksi dengan Dewan

Dibaca 220 kali

Untuk menjelaskan lebih lanjut  standar 1111 – Interaksi Langsung dengan Dewan, IIA memberikan panduan sebagai berikut:

  1. Komunikasi langsung terjadi ketika Kepala Eksekutif Audit (CAE) secara teratur mengikuti dan berpartisipasi dalam rapat Dewan yang berhubungan dengan tanggung jawab pengawasan Dewan terhadap audit, pelaporan keuangan, tata kelola organisasi, dan pengendalian. Kehadiran dan partisipasi CAE  dalam rapat-rapat tersebut memberikan kesempatan bagi si CAE untuk dapat mengetahui pengembangan strategis bisnis dan operasional. Dalam kesempatan tersebut CAE juga dapat mengungkapkan isu-isu penting terkait risiko, sistem, prosedur, atau pengendalian secara lebih dini. Selain itu kehadiran CAE juga memberikan kesempatan untuk bertukar informasi tentang rencana dan realisasi kegiatan Aktivitas Audit Internal dan informasi penting lainnya.
  2. Komunikasi dan interaksi semacam itu juga terjadi ketika CAE bertemu secara pribadi dengan  Dewan, setidaknya setiap tahun sekali.

Sayangnya, pengaturan dalam IPPF IIA (dalam hal lingkungan korporasi) lebih mengasumsikan penggunaan one-tier system of board. Sementara bagi kita di Indonesia, yang mungkin mewarisi struktur governance Belanda, banyak menggunakan two-tier system di mana fungsi Dewan Direksi sebagai executing directors dipisahkan dari Dewan Komisaris yang berfungsi sebagai dewan pengawas. Perbedaan asumsi dan sistem ini menjadikan penerapan standar dan practice advisories terkait dengan Dewan ini di Indonesia (dan negara-negara yang menggunakan two-tier system) menjadi lebih kompleks. Khusus standar 1111 di atas, komplikasi dapat terjadi ketika misalnya CAE harus menentukan pada rapat apa yang mandatory dia harus hadir. Seperti kita ketahui, dalam praktik korporasi di Indonesia rapat dapat dilakukan baik oleh Dewan Direksi ataupun Dewan Komisaris secara terpisah. Komplikasi akan semakin terasa bila hubungan diperluas dengan hubungan lain seperti pelaporan, kewenangan memutus, konsultatif, dan sebagainya sebagaimana diatur dalam standar-standar yang lain.

Ke depan, karena framework profesional yang dirilis IIA sekarang dinamai dan dimaksudkan untuk berlaku secara internasional, sudah seharusnya bila IIA mempertimbangkan lingkungan two-tier system of board dalam merumuskan standar dan pedoman lain dalam IPPF. Pada saat ini, IIA sedang mereview kembali standar dalam IPPF, dan sebagiannya terkait langsung dengan peran dan posisi Aktivitas Audit Intern terhadap Dewan ini. Saya sendiri sudah memberikan masukan kepada IIA melalui review exposure draft tersebut. Bagaimana dengan Anda? Mari turut aktif membentuk profesi ini ke depan!

Referensi:

  • Practice Advisories #1.111-1 IPPF Jan 2009