Babak Baru Hubungan Auditor Internal dan Eksternal

Dibaca 4,303 kali

Hubungan Auditor Eksternal dan Auditor Internal tampaknya akan memasuki babak baru. Satu milestone penting baru saja dipancangkan, berupa revisi ISA (International Standard of Auditing) 610 yang dilakukan oleh IAASB (International Auditing and Assurance Standards Board) beberapa waktu lalu.

ISA 610 itu sendiri sebelumnya merupakan standar yang telah berjalan. Bertajuk “Using the Works of Internal Auditors” (Menggunakan Pekerjaan Auditor Internal),  standar ini mengatur persyaratan-persyaratan tertentu, di area mana dan sampai sejauh apa, auditor eksternal dapat menggunakan pekerjaan auditor internal yang diperlukan dalam mencapai tujuan penugasannya.

Lalu seperti apa revisi yang dilakukan dalam ISA 610 sehingga menjadi milestone penting bagi hubungan kerja kedua profesi auditor ini?

Sebagaimana dirilis dalam situs IFAC (International Federation of Accountants)  maupun IIA (Institute of Internal Auditors), revisi tersebut berupa pengetatan persyaratan bagaimana seorang auditor eksternal dapat menggunakan pekerjaan auditor internal. Langkah IAASB mudah dipahami mengingat tanggung jawab opini yang mereka keluarkan semakin besar, sementara mereka sendirilah yang menanggung tanggung jawab tersebut walaupun opini tersebut sebagiannya  didasarkan pada pekerjaan auditor internal.

Dengan ketentuan yang baru, auditor eksternal harus menentukan apakah pekerjaan auditor internal bisa digunakan, dengan mengevaluasi:

  • Sejauh mana status organisasional serta kebijakan dan prosedur yang relevan mendukung objektivitas auditor internal
  • Tingkat kompetensi fungsi audit internal
  • Apakah fungsi audit internal menerapkan pendekatan yang sistematik dan teratur, termasuk menerapkan pengendalian kualitas.

Apabila ketiga hal tersebut tidak memadai, auditor eksternal tidak diperbolehkan menggunakan pekerjaan fungsi audit internal.

Apabila dari hasil evaluasi auditor eksternal dapat menggunakan pekerjaan auditor internal, selanjutnya mereka diharuskan menentukan bagian mana pekerjaan auditor internal yang bisa digunakan. Untuk itu, auditor eksternal juga harus mempertimbangkan strategi dan rencana audit, utamanya dalam mempertimbangkan penggunaan judgement, menilai risiko salah saji, merancang prosedur, serta bukti yang perlu dikumpulkan, agar secara agregat pekerjaan auditor internal dan auditor eksternal dapat mendukung opini audit.

Dalam hal auditor eksternal auditor menggunakan pekerjaan auditor internal, maka mereka akan:

  • Mendiskusikannya dengan fungsi audit internal untuk koordinasi lebih lanjut
  • Membaca laporan audit internal yang berkaitan dengan pekerjaan audit internal yang akan digunakan, untuk mendapatkan pemahaman sifat dan luasnya prosedur yang telah dilakukan beserta temuan-temuan yang terkait.
  • Auditor eksternal juga akan menilai apakah pekerjaan audit internal telah direncanakan, dilakukan, diawasi, review, dan didokumentasikan dengan baik. Penilaian juga akan dilakukan untuk memastikan bahwa bukti yang memadai telah diperoleh untuk menjadi dasar bagi auditor internal menarik kesimpulan yang wajar, serta kesimpulan-kesimpulan yang dibuat auditor internal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Secara lengkap, Anda dapat mengunduh dan mengkaji ISA 610 (Revisi) tersebut di sini.

Dari perspektif auditor internal, ketentuan baru ini seharusnya bukanlah merupakan hal yang terlalu luar biasa. IPPF jauh-jauh hari telah mengatur aspek-aspek independensi, objektivitas, kecukupan kompetensi, kecukupan prosedur, kecukupan bukti, dan keharusan menjalankan proses audit internal yang  sistematis dan teratur.

Jadi bagi Anda, auditor internal yang telah mengadopsi dan menjalankan IPPF, tentu tak ada yang perlu dirisaukan..!